Fish

Minggu, Maret 03, 2013

jurnal HUBUNGAN ANTARA GURU DAN ANAK DIDIK DALAM INTERAKSI EDUKATIF


HUBUNGAN ANTARA GURU DAN ANAK DIDIK DALAM
INTERAKSI EDUKATIF

Sutra Ayu
Universitas Muhammadiyah Makassar


Abstrak
Telah ditemukan dalam survei bahwa dengan adanya interaksi antara guru dan siswa yang saling timbal baik maka dengan begitu terwujudlah interaksi edukatif . makalah ini menelusuri masalah-masalah yang ditemukan oleh guru dan siswa saat berkansungnya  interaksi edukatif. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaktif edukasi yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses edukatif, sehingga guru akan merupakan tokoh yang akan dilihat dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik.

1  PENDAHULUAN
Pendidikan adalah proses transformasi ilmu yang di dalamnya harus ada guru dan anak didik, dengan keduanya pendidikan akan terwujud sesuai dengan harapan. Namun, problematika yang ada dalam dunia pendidikan terletak pada bagaimana cara guru mentransformasikan ilmu terhadap anak didiknya. Sehingga anak didik bisa menerima dengan baik dan akan paham terhadap materi yang disuguhkan.
Guru perlu memiliki metode mendidik. Sehingga materi yang disampaikan, mudah tersosialisasikan. Metode yang diorentasikan kepada pencapaian tiga komunikasi: komunikasi aksi, komunikasi interaksi, komunikasi antaraksi. Apabila komunikasi berjalan dengan baik, maka guru akan mudah menyampaikan materi kepada anak didik.
Pada hakekatnya guru dan anak didik adalah dwitunggal. Jika guru dan anak didik menjadi akrab, maka mudah menstransformasikan ilmu, Guru yang bijak pasti berfikir bahwa tugas utamanya adalah mencerdaskan anak didik. Maka penampilan guru tidak boleh angker di hadapan anak didik.
Disinilah pentingnya pendekatan interaksi edukatif. Setiap tindakan yang dilakukan oleh guru harus bernilai pendidikan. Yakni dengan tujuan untuk membina anak didik agar menghargai norma hukum, susila, social, dan norma agama. Sudah barang tentu hal seperti ini bakal membawa kebaikan terhadap kecerdasan anak didik. Dan anak didik pasti mampu merefleksikan kecerdasannya dalam tataran kehidupan nyata.
2. Pemahaman Awal Mengenai Interksi Edukatif    
Interaksi yang berlangsung disekitar kehidupan manusia dapat diubah menjadi interaksi yang bernilai edukatif, yakni yang dengan sadar melatakksan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang, interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai “interaksi edukatif”.
            Proses interaksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah norma. Semua norma itulah yang harus transfer kepada anak didik. Kerena itu yang harus guru tranfer kepada anak didik. Kerena itu, wajarlah bila interaksi edukatif tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dalam penuh makna. Interaksi edukatif sebagai jembatan yang menghidukan persenyawaan antara pengetahuan dan perbuatan, yang mengantarkan kepada tingkah laku sesuai dengan pengetahuan yang diterima anak didik.
            Dengan demikian dapat dipahami bahwa interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru da anak didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.
1. Ciri – Ciri Interaksi Edukatif
            Sebagai interaksi yang bernilai normatif, maka interaksi edukatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a)      Interaksi edukatif mempunyai tujuan
b)      Mempunyai prosedur yang direncanakan untuk mencapai tujuan
c)      Interaksi edukatif dengan penggarapan materi khusus
d)      Ditandai dengan aktifitas anak didik
e)      Guru berperan sebgai pembimbing
f)       Mempunyai batas waktu 
g)      Diakhiri dengan evaluasi
2. Proses pembelajaran disekolah
Guru dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberi ilmu pengetahuan kepada anak didik. Keberhasilan guru melaksanakan peranannya dala bidang pendidikan sebagian besar terletak besar pada kemampuannya melakukan berbagai peranan yang bersifat dalam situasi mengajar dan belajar.  Tiap peranan menuntut berbagai kompetensi atau keterampilan mengajar. Untuk itu peranan guru salah satunya yaitu sebagai pengajar, menyampaikan ilmu pengetahuan dan perlu memiliki keterampilan memberikan informasi kepada kelas. 
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau kelompok orang yang menjalankan kegitan pendidikan yang penting dalam kegiatan interaksi edukatif. Ia dijadikan pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sebagai pokok persoalan, anak didik memeliki kedudukan yang menempati posisi yang menentukan dalam sebuah interaksi.
Potensi anak didik sebagai daya yang tersedia, sedang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk mengembangkan daya itu. Bila anak didik adala komponen inti dalam kegiatan pendidikan, maka anak didikalah sebagai pokok persoalan dalam interaksi edukatif. Guru perlu mememhami kerakteristik anak didik sehngga muda melakasanakan interaksi edukatif.
3. Beberapa Keterampilan Dasar Mengajar
 Kedudukan guru mempunyai arti penting dalam pendidikan. Kerangka berpikir yang demikian menghendaki seseorang melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan yang diharapkan dapat membantu dalam menjalankan tugasnya dalam interaksi edukatif. Keterampilan dasar mengajar adalah keterampilan yang mutlak harus guru punyai dalam hal ini. Dengan pemilikan keterampilan dasar mengajar ini diharapkan guru dapat mengoptimalkan peranannya dikelas.
Beberapa keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai oleh guru adalah sebagai berikut :
a)      Keterampilan Dasar bertanya
            Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenal. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pengetahuan samapai dengan hal-hal yang berupa hasil pertimbangan. Dengan demikian bertanya merupakan stimulus efektif yang dapat mendorong siswa untu berfikir.  
            Pemerian waktu untuk berpikir setelah guru bertanya merupakan faktor yang penting. Pemberian waktu ini akan menghasilkan beberapa keuntungan diantaranya siswa yang merespon bertambah, banyak pikiran muncul, siswa mulai berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya, banya siswa bertanya bertambah, atau guru cenderung meningkatkan variasi bertanya.
b)      keterampilan memberi penguatan
            Memberikan penguatan dapat diartikan sebagai tingkah laku guru dalam merespon secara positif tingkah laku tertentu siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali.
            Penguatan berpengaruh positif dalam kehidupan manusia sehari-hari bertujuan agar tingkah laku yang sudah baik itu frekuensinya akan berulang atau bertambah. Yaitu mendorong seseorang untuk memperbaiki tingkah laku serat meningkakan usaha untuk kegiatannya. Sedangkan respon yang negatif bertujuan agar tingkah laku yang kurang baik itu frekuensinya berkurang atau hilang. Kegiatan memberikan penguatan atau penghargaan dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas secara tepat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. 
c)      keterampilan mengadakan variasi
Menggunakan variasi dalam kegiatan belajar-mengajar dapat diartikan sebagai perbuamengatasitan guru dalam konteks belajar-mengajar yang bertujuan  mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar-mengajarnya siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiaan, serta berperan secara aktif.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu :
1.      Variasi dalam gaya belajar
2.      Variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, serta
3.      Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.

d)      Keterampilan menjelaskan
Guru menggunaan istilah menjelaskan untuk penyajian lisan di dalam interaksi edukatif. Penekanan memberikan penjelasan adalah proses penalaran siswa dan bukan indoktrinasi. Memberikan penjelasan berupa salah satu aspek penting dalam perbuatan guru.
e)      Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
Guru sangat memerlukan keterampilan membuka dan menutup pelajaran.  Komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran meliputi meningkatkan perjatian, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, mebuat kaitan atau hubungan diantara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan tang telah dikuasai anak didik, review atau meninjau kembali pengusaan inti pekerjaan dengan merangkum inti pelajaran dan mebuat ringkasan, dan mengevaluasi.
f)       Keterampilan mengelola kelas
Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolah kelas. Guru menggunakanya untuk menciotakan dan mempertahankan kondosi kelas untuk mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan anak didik belajar. Dengan demikian pengelolahan kelas yang efektif adalah syarak bagi pengajaran yang efektif.
Pengelolahan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondidsi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjasi gangguan dalam proses interaksi edukatif. Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses interaksi edukatif. Yang masuk kedalam hal ini adalah penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas anak didik, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
g. keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil dan perorangan 
            Mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah perbuatan guru dalam konteks belajar mengajar yang hanya melayani 3-8 orang siswa untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perorangan. Pada dasarnya bentuk pengajaran ini dapat dikerjakan dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil.
            Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, perlu suatu perbuatan yang bersifat memanusiakan anak didik. Pernuatan ini berarrti bahwa perbedaan individual siswa perlu mendapatkan perhatian yang memadai..
4. Penggunaan Media Dalam Interaksi Edukatif
            Guru memang bukan satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas, peranan dan fungsinya dalam proses belajar mengajara sangar penting. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang mempunyai keterampilan dan kemampuan tertentu di masyarakat juga merupakan sumber belajar. Mereka dapat digolongkan sebagai sumber belajar jenis orang. Jenis sumber belajar yang lain adalah pesan yaitu ajaran atau informasi yang akan dipelajari atau diterima oleh siswa. Bidang studi atau meteri-materi latihan jenis ini adlah sebagai berikut :
ü  Bahan (materials). Jenis ini biasa disebut dengan istilah perangkat lunak atau software. Didalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikan baik dengan bantuan alat penyaji maupun tanpa alat penyaji. Contohnya, buku, modul, majalah transparansi OH, film bingkai, audio.
ü  Alat (device), biasa disebut hardware atau perangkat keras dan digunakan untuk menyajikan pesan contohnya, proyektor film, film bingkai, proyentor overhead, tape, radio dan TV.
ü  Teknik adalah prosedur rutin atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan alat, bahan, oarang dan lingkungan untuk menyajikan pesan.
ü  Lingkungan, memungkinkan siswa belajar. Misalnya: perpustakaan, laboratorium, pusat sarana belajar, museum, taman dan tempat – tempat lain baik yang disengaja dirancang untuk tujuan belajar siswa atau dirancang untuk tujuan lain tetapi kita manfaatkan untuk belajar siswa-siswa kira.

5. Pemilihan Media Yang Digunakan
Agar media yang dipakai dalam pengajaran yang dipilih itu tepat, disamping memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, juga terdapat beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.      Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dala memilih alat bantu.
a.       Objektifitas
b.      Program pengajaran
c.       Kualitas teknik
d.      Keefektifan dan efensiensi penggunaan
2.      Kriteria  pemilihan alat bantu pengajaran
Apabila akan menggunakan alat bantu pengajaran dengan cara memanfaatkan alat bantu yang telah ada, guru dapat menjadikan kriteria berikut sebagai dasar acuan .
a.       Apakah topik yang akan dibahas dalam hal alat bantu tersebut dapat menarik minat anak didik  untuk belajar ?
b.      Apakah mendia yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak didik ?
c.       Apabila media itu sebagai sumber pengajaran yang pokok, apakah isinya relefan dengan kurikulum yang berlaku ?
d.      Apakah materi yang disajikan otentik dengan aktual, ataukah informasi yang sudah lama diketahui massa atau peristiwa yang telah lama terjadi ?
e.       Apakah narasi, gambar, efek, warna dan sebagainya, memenuhi standar kualitas teknis ?
f.       Apakah bobot penggunaan bahasa, simbol-simbol dan                                                                                                                                                                                                                                                                                                          ilustrasinya sesuai dengan tingkat kematangan peserat didik ?
6. Prinsip-prinsip pemilihan media
Didasari bahwa setiap alat bantu pengajaran memiliki keampuhan masing-masing, maka diharapkan kepada guru agar menentukan pilihannya sesuai dengan kebutuhan pada saat itu. Hal ini dimaksudkan janga sampai penggunaan alat bantu itu menjadi penghalang kegiatan interaksi edukatif yang akan guru lakukan dikelas. Malahan sebaliknya, menjadi pembantu yang dapat mempercepat/mempermudah pencapaian tujuan pengajaran.
            Dalam rangka itulah berikut ii akan dikemukakan beberapa prinsip yang perl guuru perhatikan dalam pemilihan media pengajaran .
            Sudirman N (1991) membagi prinsip-prinsip pemilihan media (alat bantu) pengajaran ke dalam tiga ketegori, yakni :
1.      Tujuan Pemilihan
Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah pemlihan media itu untuk pembelajaran (siswa belajar) , untuk informasi yang bersifat umum, tauakah hanya hiburan untuk mengisi waktu kosong ?. Tujuan pemilihan ini berkaitan dengan kemampuan berbagai media (alat bantu).
2.      Karakteristik media pengajaran
Setiap media (alat bantu) pengajaran mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhan, cara pembuatannya, maupun cara penggunaanya. Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan media pengajaran. Disamping itu memberikan kemungkinan pada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pengajaran yang bervariasi.
3.      Alternatif pilihan
memilih pada hakikat adalah proses membuat keputusan dari barbagai alternatif pilihan. Guru bisa menuntakan pilihan media mana yang akan digunakan apabila media pengajaran itu hanya diperbandingkan. Sedangkan apabila media pengajaran itu hanya ada satu, maka guru tidak akan memilih, tetapi menggunakan apa adanya.
A.     Kegunaan media dalam interaksi edukatif
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut:
(1).  Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis.
(2). Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
(3). Penggunaan media secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.
6.  Pemilihan Metode Mengajar dalam Rangka Interaksi Edukatif
      Metodologi pengajaran sebagai ilmu bantu yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi berfungsi membantu bidang-bidang yang lain dalam proses pengajaran. Karena banyaknya mata pelajaran maka tujuan untuk setiap mata pelajaran pun berbeda-beda pula. Hal ini memungkinkan seorang guru untuk memilih metode untuk mencapa tujuan tersebut. Pemilihan metode yang alah akan menghambat pencapaian tujua pembelajaran. Guru jangan sesuka hati memilih metode, ia harus berpedoman  pada tujuan pembelajaran.
a.         Metode mengajar dan prinsip-prinsip belajar
Hubungan metode mengajar dengan prinsip-prinsip belajar atau asas-asas belajar sangat penting. Kerelevasian metode mengajar dengan prinsip-prinsip belajar akan dapat membangkitkan gairah belajat anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
1.      Metode pengajaran dan motivasi : Jika bahan pelajaran disajikan secara menarik besar kemungkinan motivasi belajar anak didik akan semakin meningkat. Motivasi berhubungan erat dengan emosi, minat, dan kebutuhan anak didik.
2.      Metode mengajar dan aktifitas :Apabila dalam interkasi edukatif terdapat keterlibatan intelek-emosional anak didik, biasanya intensitas keaktifan dan motivasi akan meningkatkan sehingga tujuan pembelaran dapat tercapai dengan efektif
3.      Metode  mengajar dan pengalihan: Pendidikan dan latihan membantu anak didik untuk mengalihkan hasil belajarnya kedalam situasi-situasi yang nyata.
4.      Metode mengajar dan penyusunan pemahaman yang logis dan psikologis: Dalam mengajar diperlukan pemilihan metode yang tepat . metode-metode tertentu lebih serasi untuk memberikan informasi. Mengenai bahan pelajaran atau gagasan- gagasan baru untuk menguraikan dan menjelaskan susunan suatu bidang yang luas dan kompleks. Kerenanya, didalam situasi-situasi tertentu guru tidak dapat meninggalkan motode ceramah ataupun metode pemberian tugas kepas anak didik.
5.      Metode mengajar berkadar CBSA dan keterampilan proses: Dalam pendidikan dan pengajaran diakui, bahwa metode-metode mengajar mempunyai kadar ke-CBSA-an yang bervariasi, mulai dari kadar yang terendah sampai kadar tertinggi.

7. Evalusi Hasil Interaksi Edukatif
Evaluasi pada dasarnya memberikan pertimbangan atau harga nilai berdasarka krieria tertentu, untuk mendapatkan evaluasi yang meyakinkan dan objektif dimulaii dari informasi-informasi kuantitatif dan kualitaif. Instrumennya(alatnya) harus cukup sahih, kukuh, praktis, dan jujur. Data yang dikumpulkan dari admistrasian instrumen itu hekdaknya diolah dengna tepat dan digambarkan pemakaiannya.
Pelaksanaan penilaian terlebih dahulu harus didasarkan atas pengukuran-pengukuran. Sebaliknya, pengukurun-pengukuran tidak akan berarti bila tidak dihubungkan dengan penilaian.
Bagi mereka yang cukup lama berkecimpung dalam pendidikan, merasakan sukarnya membuat alat evaluasi yang dapat diandalkan kualitasnya untuk memperoleh data yang akurat mengenai hasil kemauan belajar anak didik. Winarno Surakhmad (1990: 153) dan W.S (1985: 321) menjadikan validitas dan rehablitas sebagai persyaratan dan penyusunan alat evaluasi.














3. PENUTUP

A. Simpulan
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Yaitu adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain. Interaksi dalam proses pembelajaran merupakan kata kunci menuju keberhasilan pada proses pembelajaran.
Dalam setiap bentuk interaksi  edukatif  mengandung dua unsur pokok; unsur  teknis dan unsur normatif . Dalam unsur normatif, antara guru ( sebagai pendidik), dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama.
2. Saran
Interaksi edukatif sangatlah berperan penting dalam pencapain tujuan pendidikan itu sendiri, agar terjadi interaksi yang efektif antara guru dan siswa, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, anatara lain : ada tujuan yang ingin dicapai, ada bahan / pesan yang menjadi isi interaksi, ada pelajaran yang aktif mengalami, ada guru yang melaksanakan, ada metode untuk mencapai tujuan, ada situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik, ada penilaian terhadap hasil interaksi.







Daftar Rujukan
Djamarah, Saiful Bahri. 1997. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2002. Pendidikan Guru. Jakarta : Bumi Aksara. 
Kartini. 1985. Bimbingan bagi anak dan remaja yang bermasalah. Jakarta: CV. Rajawali.
Nonci. 2002 Ilmu Mendidik Guru Profesional. Makassar : Aksara.
Sadiman, Arief. 1984. Media Pendidikan. Jakarta : Rajawaji Pres.
Soewarni, Eddy. 2001. Pedoman Penyediaan Fasilitas Guru. Jakarta: Depertemen Pendidikan Nasioanal.




Jumat, Juni 15, 2012


Pengertian Tindak Tutur

Tindak tutur adalah bagian dari pragmatik. Tindak tutur (istilah Kridalaksana ‘pertuturan’ / speech act, speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana, 1984:154). Menurut Muhammad Rohmadi, (2004) teori tindak tutur pertama kali dikemukakan oleh Austin(1956), seorang guru besar di Universitas Harvard. Teori yang berwujud hasil kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O.Urmson (1965) dengan judul How to do Things with words? Akan tetapi teori itu baru berkembang secara mantap setelah Searle (1969) menerbitkan buku yang berjudul Speech Acts : An Essay in the Philosophy of language menurut Searle dalam semua komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur (fire performance of speech acts.Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa daria spek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepadasiapa, di mana, bilamana, bagaimana.
Tindak tutur merupakan gejala individu, bersifat psikologis, dan ditentukan oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Tindak tutur di titikberatkan kepada makna atau arti tindak, sedangkan peristiwa tutur lebih dititikberatkan pada tujuan peristiwanya (Suwito, 1983:33).  Dalam tindak tutur ini terjadi peristiwa tutur yang dilakukan penutur kepada mitra tutur dalam rangka menyampaikan komunikasi. Agustin (dikutuf Subyakto, 1992:33) menekankan tindak tutur dari segi pembicara. Kalimat yang bentuk formalnya berupa pertanyaan  memberikan informasi dan dapat pula berfungsi melakukan suatu tindak tutur yang dilakukan oleh penutur. Dengan demikian, penutur yang diucapkan suatu tindakan, seperti “Pergi!”, “Silahkan Anda tinggalkan rumah ini, karena Anda belum membayar kontraknya!”, “Saya mohon Anda meninggaln rumah ini” tindak tutur ini merupakan suatu perintah dari penutur kepada mitra tutur  untuk melakukan tindakan.
Tindak tutur adalah kegiatan seseorang menggunakan bahasa kepada mitra tutur dalam rangka mengkomunikasikan sesuatu. Apa makna yang dikomukasikan tidak hanya dapat dipahami berdasarkan penggunaan bahasa dalam bertutur tersebut tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspek komunikasi secara komprehensif, termasuk aspek-aspek situasional komunikasi.
Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82; lihat Gunarwan, 1994:85-86) membagi tindak tutur menjadi lima kategori:1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan 2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalamtuturan itu3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannyadiartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu. 4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya 5. Deklarasi yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakanhal (status, keadaan, dsb) yang baru.

Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral didalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan. Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitutindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandungmaksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itudilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkanuntuk mempengaruhi mitra tutur. berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai tindak lokusi, ilokusi dan perlokusi.

1. Tindak lokusi
Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Di dalam tindak lokusi tidak mempermasalahkan maksud atau fungsi tutur.  Pernyataan yang diajukan berkenaan dengan lokusi ini adalah apakah makna tuturan yang diucapkan itu. Lokusi semata-mata tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkansesuatu dengan kata-kata. Makna kata dalam tuturan lokusi itu sesuaidengan makna kata di dalam kamus.
Sebagai contoh tindak lokusi adalah kalimat berikut:
(1) Mamad belajar membaca,
(2) Ali bermain piano.
(3). Manusia adalah ciptaan Tuhan
Kedua kalimat di atas diutarakan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatutan pada tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diindentifikasi, karena dalam pengidentifikasian tindak lokusi tidak memperhitungkan konteks tuturannya.
2. Tindak Ilokusi

Tindak ilakusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau mengintormasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak ilokusi mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan (Rustono 1999:37). Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi. Hal itu terjadi karena tindak ilokusi itu berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan dan di mana tindak tutur dilakukan pada tindak tutur ilokusi perlu disertakan konteks tuturan dalam situasi tutur. Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya ujar. Tindak tutur ilokusi dapat diidentifikasi sebagai tindak tutur yang berfungsi untuk menginformasikan sesuatu dan melakukan sesuatu (Wijana1996:18).
 Sebagai contoh pada kalimat berikut:
(1)Yuli sudah seminar proposal skripsi kemarin.
(2) Santoso sedang sakit.
Kalimat (1) jika diucapkan kepada seorang mahasiswa semester XII, bukan hanya Sekadar memberikan informasi saja akan tetapi juga melakukan sesuatu, yaitu memberikan doronganagar mahasiswa tadi segera mengerjakan skripsinya. Sedangkan kalimat (2) jika diucapkan kepada temannya yang menghidupkan radio dengan volume tinggi, berarti bukan saja sebagaiinformasi teapi juga untuk menyuruh agar mengecilkan volume atau mematikan radionya. Tindak ilokusi sangat sulit diidentifikasi karena terlebih daihuhi harus mempertimbangkan siapa penutur dan lawan tuturnya

3. Tindak Perlokusi
Tuturan yang diucapkan penutur sering memiliki efek atau daya pengaruh (perlocutionary force). Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah yang oleh Austin (1962: 101) dinamakan perlokusi. Efek atau daya tuturan itu dapat ditimbulkan oleh penutur secara segaja, dapat pula secara tidak sengaja. Tindak tutur yang pengujaran dimaksudkan untuk memengaruhi mitra tutur inilah merupakan tindak perlokusi.
Sebagai contoh dapat dilihat pada kalimat berikut:
(1).    Kemarin ayahku sakit.
(2).    Samin bebas SPP.
Kalimat (1) jika diucapkan oleh seseorang yang tidak dapat menghadiri undangan temannya,maka ilokusinya adalah untuk meminta maaf, dan perlokusinva adalah agar orang yang mengundangnya harap maklum. Sedangkan kalimat (2) jika diucapkan seorang guru kepada murid-muridnya, maka ilokusinya adalah meminta agar teman-temannya tidak iri, dan perlokusinya adalah agar teman-temannya memaklumi keadaan ekonomi orang tua Samin.Tindak perlokusi juga sulit dideteksi, karena harus melibatkan konteks tuturnya. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturnya dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung lokusi saja, dan perlokusi saja. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung kedua atau ketiganya sekaligus.

Sabtu, Mei 05, 2012


Dirimu



Kau tanamkan bunga di hatiku
namun kau juga memberi duri di hatiku

Kau  beriku senyuman
Namun kau juga memberiku kesedihan

Kau beriku rasa cinta
Namun kini aku sakit gara-gara cintamu

Kau beriku kisah indah
Namun kini kau pun memberiku kisah menyedihkan

Kini dan seterusnya aku ingin melupakanmu
Melupakan semuanya tentangmu biarlah menjadi sebuah  kisah yang terindah dan menyedihkan..

BUTA
Kekuasaan merajai segalanya
Uang menjadi sebuah budak baginya

Tidaklah kalian tahu
Kekuasaan dan uang itu hanya sementara
Takkan bisa dibawa mati
Takkan berguna di kehidupan kekal disana

Korupsi.....???????
Apa yang di otak kalian Cuma uang
Uang dan uang saja yang kalian kejar setiap hari...
Dasar munafik
Menikmati harta yang haram

Kalian semua dibutakan oleh fatamorgana kehidupan
Rayuan setan yang merasuk kedalam hati kalian
Hingga aliran darah kalian menjadi sebuah aliran yang seakan akan mengaliri darah kotor

Uang itu kalian rampas dengan nafsu
Hingga kata Halal kalian tak peduli

Sementara diluar sana banyak orang yang berteriak
“Aku lapar,Lapar, Lapar, Lapar... !!!!
Dengan susah payah mereka mengais rejeki
Di teriknya matahari yang menyengat kulitnya
Dan derasnya hujan tanpa payung

Jumat, April 27, 2012


Ku ingin selamanya


Ibu tanpamu  aku mungkin tak lahir
Tak mungkin melihat dunia ini
Bahkan tak merasakan disanyangi oleh mu

Aku tahu tak dapat di ukur oleh timbangan cintamu pada ku
Tak dapat di hitung pengorbananmu
Dan seberapa besar cintamu yang tak bisa di lihat

Mungkin aku tak bisa membalas pengorbanan mu
Tak mungkin aku bisa selalu membuat mu tersenyum
Aku juga tak tau kapan aku berpisah darimu

Jika aku duluan yang dipanggi oleh yang maha kuasa
Ku harap ibu selalu sehat dan tak usah menangisi aku
Karna aku tahu begitu banyak air mata yang dikeluarkan ibu untukku
Air mata bahagia, air mata sedih, air mata ingin melihat ku bahagia kelak

Ibu....
Seandainya aku hanya diberi satu permintaans aja
Aku ingin selamanya berada di sampingmu...