Fish

Minggu, Maret 03, 2013

jurnal HUBUNGAN ANTARA GURU DAN ANAK DIDIK DALAM INTERAKSI EDUKATIF


HUBUNGAN ANTARA GURU DAN ANAK DIDIK DALAM
INTERAKSI EDUKATIF

Sutra Ayu
Universitas Muhammadiyah Makassar


Abstrak
Telah ditemukan dalam survei bahwa dengan adanya interaksi antara guru dan siswa yang saling timbal baik maka dengan begitu terwujudlah interaksi edukatif . makalah ini menelusuri masalah-masalah yang ditemukan oleh guru dan siswa saat berkansungnya  interaksi edukatif. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaktif edukasi yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses edukatif, sehingga guru akan merupakan tokoh yang akan dilihat dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik.

1  PENDAHULUAN
Pendidikan adalah proses transformasi ilmu yang di dalamnya harus ada guru dan anak didik, dengan keduanya pendidikan akan terwujud sesuai dengan harapan. Namun, problematika yang ada dalam dunia pendidikan terletak pada bagaimana cara guru mentransformasikan ilmu terhadap anak didiknya. Sehingga anak didik bisa menerima dengan baik dan akan paham terhadap materi yang disuguhkan.
Guru perlu memiliki metode mendidik. Sehingga materi yang disampaikan, mudah tersosialisasikan. Metode yang diorentasikan kepada pencapaian tiga komunikasi: komunikasi aksi, komunikasi interaksi, komunikasi antaraksi. Apabila komunikasi berjalan dengan baik, maka guru akan mudah menyampaikan materi kepada anak didik.
Pada hakekatnya guru dan anak didik adalah dwitunggal. Jika guru dan anak didik menjadi akrab, maka mudah menstransformasikan ilmu, Guru yang bijak pasti berfikir bahwa tugas utamanya adalah mencerdaskan anak didik. Maka penampilan guru tidak boleh angker di hadapan anak didik.
Disinilah pentingnya pendekatan interaksi edukatif. Setiap tindakan yang dilakukan oleh guru harus bernilai pendidikan. Yakni dengan tujuan untuk membina anak didik agar menghargai norma hukum, susila, social, dan norma agama. Sudah barang tentu hal seperti ini bakal membawa kebaikan terhadap kecerdasan anak didik. Dan anak didik pasti mampu merefleksikan kecerdasannya dalam tataran kehidupan nyata.
2. Pemahaman Awal Mengenai Interksi Edukatif    
Interaksi yang berlangsung disekitar kehidupan manusia dapat diubah menjadi interaksi yang bernilai edukatif, yakni yang dengan sadar melatakksan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang, interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai “interaksi edukatif”.
            Proses interaksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah norma. Semua norma itulah yang harus transfer kepada anak didik. Kerena itu yang harus guru tranfer kepada anak didik. Kerena itu, wajarlah bila interaksi edukatif tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dalam penuh makna. Interaksi edukatif sebagai jembatan yang menghidukan persenyawaan antara pengetahuan dan perbuatan, yang mengantarkan kepada tingkah laku sesuai dengan pengetahuan yang diterima anak didik.
            Dengan demikian dapat dipahami bahwa interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru da anak didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.
1. Ciri – Ciri Interaksi Edukatif
            Sebagai interaksi yang bernilai normatif, maka interaksi edukatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a)      Interaksi edukatif mempunyai tujuan
b)      Mempunyai prosedur yang direncanakan untuk mencapai tujuan
c)      Interaksi edukatif dengan penggarapan materi khusus
d)      Ditandai dengan aktifitas anak didik
e)      Guru berperan sebgai pembimbing
f)       Mempunyai batas waktu 
g)      Diakhiri dengan evaluasi
2. Proses pembelajaran disekolah
Guru dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberi ilmu pengetahuan kepada anak didik. Keberhasilan guru melaksanakan peranannya dala bidang pendidikan sebagian besar terletak besar pada kemampuannya melakukan berbagai peranan yang bersifat dalam situasi mengajar dan belajar.  Tiap peranan menuntut berbagai kompetensi atau keterampilan mengajar. Untuk itu peranan guru salah satunya yaitu sebagai pengajar, menyampaikan ilmu pengetahuan dan perlu memiliki keterampilan memberikan informasi kepada kelas. 
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau kelompok orang yang menjalankan kegitan pendidikan yang penting dalam kegiatan interaksi edukatif. Ia dijadikan pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sebagai pokok persoalan, anak didik memeliki kedudukan yang menempati posisi yang menentukan dalam sebuah interaksi.
Potensi anak didik sebagai daya yang tersedia, sedang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk mengembangkan daya itu. Bila anak didik adala komponen inti dalam kegiatan pendidikan, maka anak didikalah sebagai pokok persoalan dalam interaksi edukatif. Guru perlu mememhami kerakteristik anak didik sehngga muda melakasanakan interaksi edukatif.
3. Beberapa Keterampilan Dasar Mengajar
 Kedudukan guru mempunyai arti penting dalam pendidikan. Kerangka berpikir yang demikian menghendaki seseorang melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan yang diharapkan dapat membantu dalam menjalankan tugasnya dalam interaksi edukatif. Keterampilan dasar mengajar adalah keterampilan yang mutlak harus guru punyai dalam hal ini. Dengan pemilikan keterampilan dasar mengajar ini diharapkan guru dapat mengoptimalkan peranannya dikelas.
Beberapa keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai oleh guru adalah sebagai berikut :
a)      Keterampilan Dasar bertanya
            Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenal. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pengetahuan samapai dengan hal-hal yang berupa hasil pertimbangan. Dengan demikian bertanya merupakan stimulus efektif yang dapat mendorong siswa untu berfikir.  
            Pemerian waktu untuk berpikir setelah guru bertanya merupakan faktor yang penting. Pemberian waktu ini akan menghasilkan beberapa keuntungan diantaranya siswa yang merespon bertambah, banyak pikiran muncul, siswa mulai berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya, banya siswa bertanya bertambah, atau guru cenderung meningkatkan variasi bertanya.
b)      keterampilan memberi penguatan
            Memberikan penguatan dapat diartikan sebagai tingkah laku guru dalam merespon secara positif tingkah laku tertentu siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali.
            Penguatan berpengaruh positif dalam kehidupan manusia sehari-hari bertujuan agar tingkah laku yang sudah baik itu frekuensinya akan berulang atau bertambah. Yaitu mendorong seseorang untuk memperbaiki tingkah laku serat meningkakan usaha untuk kegiatannya. Sedangkan respon yang negatif bertujuan agar tingkah laku yang kurang baik itu frekuensinya berkurang atau hilang. Kegiatan memberikan penguatan atau penghargaan dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas secara tepat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. 
c)      keterampilan mengadakan variasi
Menggunakan variasi dalam kegiatan belajar-mengajar dapat diartikan sebagai perbuamengatasitan guru dalam konteks belajar-mengajar yang bertujuan  mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar-mengajarnya siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiaan, serta berperan secara aktif.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu :
1.      Variasi dalam gaya belajar
2.      Variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, serta
3.      Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.

d)      Keterampilan menjelaskan
Guru menggunaan istilah menjelaskan untuk penyajian lisan di dalam interaksi edukatif. Penekanan memberikan penjelasan adalah proses penalaran siswa dan bukan indoktrinasi. Memberikan penjelasan berupa salah satu aspek penting dalam perbuatan guru.
e)      Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
Guru sangat memerlukan keterampilan membuka dan menutup pelajaran.  Komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran meliputi meningkatkan perjatian, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, mebuat kaitan atau hubungan diantara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan tang telah dikuasai anak didik, review atau meninjau kembali pengusaan inti pekerjaan dengan merangkum inti pelajaran dan mebuat ringkasan, dan mengevaluasi.
f)       Keterampilan mengelola kelas
Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolah kelas. Guru menggunakanya untuk menciotakan dan mempertahankan kondosi kelas untuk mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan anak didik belajar. Dengan demikian pengelolahan kelas yang efektif adalah syarak bagi pengajaran yang efektif.
Pengelolahan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondidsi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjasi gangguan dalam proses interaksi edukatif. Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses interaksi edukatif. Yang masuk kedalam hal ini adalah penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas anak didik, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
g. keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil dan perorangan 
            Mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah perbuatan guru dalam konteks belajar mengajar yang hanya melayani 3-8 orang siswa untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perorangan. Pada dasarnya bentuk pengajaran ini dapat dikerjakan dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil.
            Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, perlu suatu perbuatan yang bersifat memanusiakan anak didik. Pernuatan ini berarrti bahwa perbedaan individual siswa perlu mendapatkan perhatian yang memadai..
4. Penggunaan Media Dalam Interaksi Edukatif
            Guru memang bukan satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas, peranan dan fungsinya dalam proses belajar mengajara sangar penting. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang mempunyai keterampilan dan kemampuan tertentu di masyarakat juga merupakan sumber belajar. Mereka dapat digolongkan sebagai sumber belajar jenis orang. Jenis sumber belajar yang lain adalah pesan yaitu ajaran atau informasi yang akan dipelajari atau diterima oleh siswa. Bidang studi atau meteri-materi latihan jenis ini adlah sebagai berikut :
ü  Bahan (materials). Jenis ini biasa disebut dengan istilah perangkat lunak atau software. Didalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikan baik dengan bantuan alat penyaji maupun tanpa alat penyaji. Contohnya, buku, modul, majalah transparansi OH, film bingkai, audio.
ü  Alat (device), biasa disebut hardware atau perangkat keras dan digunakan untuk menyajikan pesan contohnya, proyektor film, film bingkai, proyentor overhead, tape, radio dan TV.
ü  Teknik adalah prosedur rutin atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan alat, bahan, oarang dan lingkungan untuk menyajikan pesan.
ü  Lingkungan, memungkinkan siswa belajar. Misalnya: perpustakaan, laboratorium, pusat sarana belajar, museum, taman dan tempat – tempat lain baik yang disengaja dirancang untuk tujuan belajar siswa atau dirancang untuk tujuan lain tetapi kita manfaatkan untuk belajar siswa-siswa kira.

5. Pemilihan Media Yang Digunakan
Agar media yang dipakai dalam pengajaran yang dipilih itu tepat, disamping memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, juga terdapat beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.      Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dala memilih alat bantu.
a.       Objektifitas
b.      Program pengajaran
c.       Kualitas teknik
d.      Keefektifan dan efensiensi penggunaan
2.      Kriteria  pemilihan alat bantu pengajaran
Apabila akan menggunakan alat bantu pengajaran dengan cara memanfaatkan alat bantu yang telah ada, guru dapat menjadikan kriteria berikut sebagai dasar acuan .
a.       Apakah topik yang akan dibahas dalam hal alat bantu tersebut dapat menarik minat anak didik  untuk belajar ?
b.      Apakah mendia yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak didik ?
c.       Apabila media itu sebagai sumber pengajaran yang pokok, apakah isinya relefan dengan kurikulum yang berlaku ?
d.      Apakah materi yang disajikan otentik dengan aktual, ataukah informasi yang sudah lama diketahui massa atau peristiwa yang telah lama terjadi ?
e.       Apakah narasi, gambar, efek, warna dan sebagainya, memenuhi standar kualitas teknis ?
f.       Apakah bobot penggunaan bahasa, simbol-simbol dan                                                                                                                                                                                                                                                                                                          ilustrasinya sesuai dengan tingkat kematangan peserat didik ?
6. Prinsip-prinsip pemilihan media
Didasari bahwa setiap alat bantu pengajaran memiliki keampuhan masing-masing, maka diharapkan kepada guru agar menentukan pilihannya sesuai dengan kebutuhan pada saat itu. Hal ini dimaksudkan janga sampai penggunaan alat bantu itu menjadi penghalang kegiatan interaksi edukatif yang akan guru lakukan dikelas. Malahan sebaliknya, menjadi pembantu yang dapat mempercepat/mempermudah pencapaian tujuan pengajaran.
            Dalam rangka itulah berikut ii akan dikemukakan beberapa prinsip yang perl guuru perhatikan dalam pemilihan media pengajaran .
            Sudirman N (1991) membagi prinsip-prinsip pemilihan media (alat bantu) pengajaran ke dalam tiga ketegori, yakni :
1.      Tujuan Pemilihan
Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah pemlihan media itu untuk pembelajaran (siswa belajar) , untuk informasi yang bersifat umum, tauakah hanya hiburan untuk mengisi waktu kosong ?. Tujuan pemilihan ini berkaitan dengan kemampuan berbagai media (alat bantu).
2.      Karakteristik media pengajaran
Setiap media (alat bantu) pengajaran mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhan, cara pembuatannya, maupun cara penggunaanya. Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan media pengajaran. Disamping itu memberikan kemungkinan pada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pengajaran yang bervariasi.
3.      Alternatif pilihan
memilih pada hakikat adalah proses membuat keputusan dari barbagai alternatif pilihan. Guru bisa menuntakan pilihan media mana yang akan digunakan apabila media pengajaran itu hanya diperbandingkan. Sedangkan apabila media pengajaran itu hanya ada satu, maka guru tidak akan memilih, tetapi menggunakan apa adanya.
A.     Kegunaan media dalam interaksi edukatif
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut:
(1).  Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis.
(2). Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
(3). Penggunaan media secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.
6.  Pemilihan Metode Mengajar dalam Rangka Interaksi Edukatif
      Metodologi pengajaran sebagai ilmu bantu yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi berfungsi membantu bidang-bidang yang lain dalam proses pengajaran. Karena banyaknya mata pelajaran maka tujuan untuk setiap mata pelajaran pun berbeda-beda pula. Hal ini memungkinkan seorang guru untuk memilih metode untuk mencapa tujuan tersebut. Pemilihan metode yang alah akan menghambat pencapaian tujua pembelajaran. Guru jangan sesuka hati memilih metode, ia harus berpedoman  pada tujuan pembelajaran.
a.         Metode mengajar dan prinsip-prinsip belajar
Hubungan metode mengajar dengan prinsip-prinsip belajar atau asas-asas belajar sangat penting. Kerelevasian metode mengajar dengan prinsip-prinsip belajar akan dapat membangkitkan gairah belajat anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
1.      Metode pengajaran dan motivasi : Jika bahan pelajaran disajikan secara menarik besar kemungkinan motivasi belajar anak didik akan semakin meningkat. Motivasi berhubungan erat dengan emosi, minat, dan kebutuhan anak didik.
2.      Metode mengajar dan aktifitas :Apabila dalam interkasi edukatif terdapat keterlibatan intelek-emosional anak didik, biasanya intensitas keaktifan dan motivasi akan meningkatkan sehingga tujuan pembelaran dapat tercapai dengan efektif
3.      Metode  mengajar dan pengalihan: Pendidikan dan latihan membantu anak didik untuk mengalihkan hasil belajarnya kedalam situasi-situasi yang nyata.
4.      Metode mengajar dan penyusunan pemahaman yang logis dan psikologis: Dalam mengajar diperlukan pemilihan metode yang tepat . metode-metode tertentu lebih serasi untuk memberikan informasi. Mengenai bahan pelajaran atau gagasan- gagasan baru untuk menguraikan dan menjelaskan susunan suatu bidang yang luas dan kompleks. Kerenanya, didalam situasi-situasi tertentu guru tidak dapat meninggalkan motode ceramah ataupun metode pemberian tugas kepas anak didik.
5.      Metode mengajar berkadar CBSA dan keterampilan proses: Dalam pendidikan dan pengajaran diakui, bahwa metode-metode mengajar mempunyai kadar ke-CBSA-an yang bervariasi, mulai dari kadar yang terendah sampai kadar tertinggi.

7. Evalusi Hasil Interaksi Edukatif
Evaluasi pada dasarnya memberikan pertimbangan atau harga nilai berdasarka krieria tertentu, untuk mendapatkan evaluasi yang meyakinkan dan objektif dimulaii dari informasi-informasi kuantitatif dan kualitaif. Instrumennya(alatnya) harus cukup sahih, kukuh, praktis, dan jujur. Data yang dikumpulkan dari admistrasian instrumen itu hekdaknya diolah dengna tepat dan digambarkan pemakaiannya.
Pelaksanaan penilaian terlebih dahulu harus didasarkan atas pengukuran-pengukuran. Sebaliknya, pengukurun-pengukuran tidak akan berarti bila tidak dihubungkan dengan penilaian.
Bagi mereka yang cukup lama berkecimpung dalam pendidikan, merasakan sukarnya membuat alat evaluasi yang dapat diandalkan kualitasnya untuk memperoleh data yang akurat mengenai hasil kemauan belajar anak didik. Winarno Surakhmad (1990: 153) dan W.S (1985: 321) menjadikan validitas dan rehablitas sebagai persyaratan dan penyusunan alat evaluasi.














3. PENUTUP

A. Simpulan
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Yaitu adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain. Interaksi dalam proses pembelajaran merupakan kata kunci menuju keberhasilan pada proses pembelajaran.
Dalam setiap bentuk interaksi  edukatif  mengandung dua unsur pokok; unsur  teknis dan unsur normatif . Dalam unsur normatif, antara guru ( sebagai pendidik), dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama.
2. Saran
Interaksi edukatif sangatlah berperan penting dalam pencapain tujuan pendidikan itu sendiri, agar terjadi interaksi yang efektif antara guru dan siswa, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, anatara lain : ada tujuan yang ingin dicapai, ada bahan / pesan yang menjadi isi interaksi, ada pelajaran yang aktif mengalami, ada guru yang melaksanakan, ada metode untuk mencapai tujuan, ada situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik, ada penilaian terhadap hasil interaksi.







Daftar Rujukan
Djamarah, Saiful Bahri. 1997. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2002. Pendidikan Guru. Jakarta : Bumi Aksara. 
Kartini. 1985. Bimbingan bagi anak dan remaja yang bermasalah. Jakarta: CV. Rajawali.
Nonci. 2002 Ilmu Mendidik Guru Profesional. Makassar : Aksara.
Sadiman, Arief. 1984. Media Pendidikan. Jakarta : Rajawaji Pres.
Soewarni, Eddy. 2001. Pedoman Penyediaan Fasilitas Guru. Jakarta: Depertemen Pendidikan Nasioanal.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar